Jumat, 14 Oktober 2011

Cermin


Biarlah Keadaan yang Berubah namun Hati untuk Satu Tujuan
Sejak awal manusia diciptakan adalah untuk mengabdi pada Allah swt. Sebelum di turunkan ke alam dunia ada perjanjian yang telah diikrarkan, ada amanah yang harus diemban yaitu tetap menghamba dalam kekuasaan dan ke-Esaan-Nya. Sebelumnya iblis (syeithan) pun berikrar untuk senantiasa berusaha membuat kita mengingkari janji yang telah mengikatkan kita pada illahi. Pertarungan pun di mulai untuk menepati ikrar masing-masing, kita berusaha untuk menjadi hamba yang taat namun di sisi lain syeithan membuat godaan-godaan agar kita merasa terikat akan dunia dan lupa akan tempat kembali yang hakiki. Ia merasuki hati manusia supaya tujuan hidupnya menggapai kebahagiaan dunia namun lupa akan akhirat. Sebagaimana Allah berfirman: “maka diantara manusia ada yang berkata,”Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia,” dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”
Keadaan manusia di dunia akan senantiasa berubah-ubah, namun yang terpenting adalah bagaiamana menjaga hati untuk tetap melakukan sesuatu lillahi ta’ala. Hal ini adalah buah dari cinta pada-Nya, maka kehidupan hanya akan dijalankan demi menggapai ridlo-Nya dan menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk bertemu dan membuktikan bahwa ia telah menepati ikrarnya terhadap Penguasa yang Hakiki.
Allah menyuruh manusia berusaha, berfikir di dunia untuk kelangsungan hidupnya serta sebagai jalan menghamba dan selalu mendekatkan diri terhadap-Nya. Namun banyak diantara mereka yang menjadikan dunia sebagai hijab antara mereka dengan illahi. Apa yang diusahakannya tidak lagi semata-mata karena untuk menghamba pada illahi, akan tetapi untuk sesuatu yang ada di dunia ini. Allah tak menuntut manusia untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna karena Dia Maha Mengetahui kalau hamba-Nya pun punya kelemahan dan kekurangan. Dia hanya menginginkan penghambaan yang ikhlas dan kaffah. Oleh sebab itu Allah berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah”. Sebagaimana pula ungkapan Ibnu Athaillah dalam kitabnya al-Hikam: “Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan”. 
Apapun keadaan manusia, maka ia dituntut untuk selalu ikhlas menjalani hidunya. Ikhlas berarti hanya mengharap balasan dan keridloan Allah. Hati yang tertuju pada keridloan Tuhan-Nya, maka tak mungkinlah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang membuat Tuhan-Nya marah. Apakah mungkin ia akan menyakiti saudaranya sedangkan Tuhannya tidak suka? Apakah ia akan melakukan kejahatan dalam kesendirian sedangkan Tuhannya selalu mengawasinya? Ia akan benci pada kemaksiatan sebagaimana Tuhan membencinya, ia akan terluka ketika perbuatannya telah membuatnya terjauh dari Tuhannya. Apa yang ada di dunia hanyalah cobaan dan segala yang dihadapinya akan menjadi wasilah dalam menggapai keridloan-Nya. Kesucian hatinya selalu dijaga untuk tetap mengingat-Nya, maka zhahir dan perbuatanya pun akan senantiasa terjaga. Wallahu A’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar