Biarlah Keadaan yang Berubah namun Hati untuk Satu Tujuan
Sejak
awal manusia diciptakan adalah untuk mengabdi pada Allah swt. Sebelum di
turunkan ke alam dunia ada perjanjian yang telah diikrarkan, ada amanah yang
harus diemban yaitu tetap menghamba dalam kekuasaan dan ke-Esaan-Nya.
Sebelumnya iblis (syeithan) pun berikrar untuk senantiasa berusaha membuat kita
mengingkari janji yang telah mengikatkan kita pada illahi. Pertarungan pun di
mulai untuk menepati ikrar masing-masing, kita berusaha untuk menjadi hamba
yang taat namun di sisi lain syeithan membuat godaan-godaan agar kita merasa
terikat akan dunia dan lupa akan tempat kembali yang hakiki. Ia merasuki hati
manusia supaya tujuan hidupnya menggapai kebahagiaan dunia namun lupa akan
akhirat. Sebagaimana Allah berfirman: “maka diantara manusia ada yang
berkata,”Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia,” dan tiadalah baginya
bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”
Keadaan
manusia di dunia akan senantiasa berubah-ubah, namun yang terpenting adalah
bagaiamana menjaga hati untuk tetap melakukan sesuatu lillahi ta’ala. Hal ini
adalah buah dari cinta pada-Nya, maka kehidupan hanya akan dijalankan demi
menggapai ridlo-Nya dan menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk bertemu dan
membuktikan bahwa ia telah menepati ikrarnya terhadap Penguasa yang Hakiki.
Allah
menyuruh manusia berusaha, berfikir di dunia untuk kelangsungan hidupnya serta
sebagai jalan menghamba dan selalu mendekatkan diri terhadap-Nya. Namun banyak
diantara mereka yang menjadikan dunia sebagai hijab antara mereka dengan
illahi. Apa yang diusahakannya tidak lagi semata-mata karena untuk menghamba
pada illahi, akan tetapi untuk sesuatu yang ada di dunia ini. Allah tak
menuntut manusia untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna karena Dia Maha
Mengetahui kalau hamba-Nya pun punya kelemahan dan kekurangan. Dia hanya
menginginkan penghambaan yang ikhlas dan kaffah. Oleh sebab itu Allah
berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah”. Sebagaimana
pula ungkapan Ibnu Athaillah dalam kitabnya al-Hikam: “Amal itu kerangka
yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan”.
Apapun keadaan
manusia, maka ia dituntut untuk selalu ikhlas menjalani hidunya. Ikhlas berarti
hanya mengharap balasan dan keridloan Allah. Hati yang tertuju pada keridloan
Tuhan-Nya, maka tak mungkinlah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang
membuat Tuhan-Nya marah. Apakah mungkin ia akan menyakiti saudaranya sedangkan
Tuhannya tidak suka? Apakah ia akan melakukan kejahatan dalam kesendirian
sedangkan Tuhannya selalu mengawasinya? Ia akan benci pada kemaksiatan
sebagaimana Tuhan membencinya, ia akan terluka ketika perbuatannya telah
membuatnya terjauh dari Tuhannya. Apa yang ada di dunia hanyalah cobaan dan
segala yang dihadapinya akan menjadi wasilah dalam menggapai keridloan-Nya.
Kesucian hatinya selalu dijaga untuk tetap mengingat-Nya, maka zhahir dan
perbuatanya pun akan senantiasa terjaga. Wallahu A’lam…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar