1996 aku mulai menimba ilmu di sekolah formal yaitu Sekolah Dasar, hingga Tahun 2012 aku lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Islam Negeri di Surabaya.
Di antara tiap jenjang yang aku lalui, hanya satu jenjang yg titel sekolahku Swasta, namun itulah yg paling berkesan di hati. Hingga kini aku mengabdi, Thawalib Putri sudah kuanggap sebagai rumah kedua.
Dulu aku bersekolah di SDN Jatiwaringin XI Pondok Gede, kemudian tahun 2002 lulus dan melanjutkan ke SMP N 259 TMII Jakarta Timur. Saat akan mendekati kelulusan SMP, aku berkeinginan untuk melanjutkan ke salah satu SMA favorit di Jakarta, karena memang sebagian besar orang tua mendorong dan mendoakan anaknya agar bisa masuk Sekolah Negeri Favorit di Jakarta.
Orang tuaku yang begitu memperhatikan masalah keagamaan enggan untuk menyekolahkanku ke sekolah umum, karena bagi keduanya yg terpenting adalah mendalami ilmu agama. Bahkan ibuku rela berkorban apa pun agar aku bisa melanjutkan sekolah ke Pesantren. Hatiku setengah-setengah mengikuti kemauan kedua orang tua, namun bagaimana lagi dari pada aku tidak sekolah. Kalau untuk nilai UAN, alhamdulillah nilaiku mencukupi untuk masuk sekolah negeri favorit d Jakarta, hingga beberapa temanku menyayangkan. Akhirnya, dengan langkah yg sedikit enggan kuberangkatkan diri ini menuju Padang Panjang, Thawalib Putri.
Saat pertama kali aku sampai di Sumbar, tangisku meledak mengingat kawan-kawan dan keluarga di Jakarta. Sungguh, inilah babak baru dalam hidupku, berjuang jauh dari orang tua dan keluarga. Namun, dari Thawalib inilah segala perubahan aku rasakan. Dari udara yang begitu sejuk hingga pelajaran hidup yang tak kan terlupakan.
Sejak SD hingga SMP aku hanya memiliki teman di sekolah, sedangkan di rumah keluarga adalah temanku, Ketika masuk di Thawalib Putri, tinggal di asrama aku harus menghadapi berbagai macam karakter teman-teman. Di sini aku belajar dari mereka, aku belajar mengokohkan diri, belajar mengenal arti kekeluargaan, kebersamaan dan kesetiakawanan. Dari sinilah awal permulaan kedewasaanku terdidik dan terlatih hingga menduduki bangku kuliah, rasa kekeluargaan itu selalu kurasakan. Dari sinilah kudapatkan beasiswa PBSB Kemenag, Gelar Sarjana yg kusandang tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya pendidikan. Alhamdulillah, trima kasih Thawalib, Trima Kasih Kemenag dan Trima Kasih Keluarga, teman-teman tercinta serta Pengelola yang telah membantuku menyelesaikan kuliah S1.
Kini aku mengabdi di Pondok Thawalib Tercinta. Pengabdian ini tiadalah berarti dibanding pelajaran apa yg telah kudapatkan selama di Thawalib Putri. Aku bertekad membangun Thawalibku tercinta, melalui pendidikan, penanaman nilai-nilai akhlak kepada santriwati yang telah diamanahkan di thawalib putri. Kami bertekad untuk merubah dan mendidik anak-anak kami berapa pun dia. Kami tak memberikan janji, namun tekad dan usaha yang akan membuktikan. Pengabdian ini, bukanlah sekedar pengabdian biasa yg menghabiskan waktu memenuhi kewajiban. Aku sadar bahwa pengabdian ini bukan hanya sekedar untuk thawalib putri, namun untuk negeri tercinta dan untuk agama Islam menciptakan generasi islami terdidik dan berakhlak mulia.
Mohon doa restu!!
Bismillaahirrahmaanirrahiim....





































